Jumat, 29 Juni 2012

Novel Laskar Pelangi



“NILAI-NILAI EDUKATIF DALAM NOVEL LASKAR PELANGI KARYA ANDREA HIRATA: TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA”.
A.    Latar Belakang
Sastra adalah suatu bentuk dari hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai bahasanya. Sebagai sebuah bentuk kesenian yang berobjek manusia dengan segala macam permasalahan kehidupannya, maka ia tidak saja merupakan suatu media untuk menyampaikan ide, teori atau sistem berpikir manusia, melainkan sastra harus pula mampu menjadi wadah penyampaian ide-ide yang dipikirkan sastrawan tentang kehidupan manusia (Semi, 1988:8).
Berangkat dari permasalahan kehidupan yang ada inilah, maka kesusasteraan bukan hanya sekedar seni semata tetapi kesusasteraan adalah suatu kehidupan, kesusasteraan tidak hanya menghubungkan kehidupan tetapi kesusasteraan adalah kehidupan itu sendiri (Crawfurd dalam Sukada, 1987:11). Sumardjo (1994:17) berpendapat bahwa tidak mengherankan kalau pengarang akan menulis respon sosialnya dalam lingkungan hidupnya.
Karya sastra lahir karena adanya keinginan dari pengarang untuk mengungkapkan eksistensinya sebagai manusia yang berisi ide, gagasan, dan pesan tertentu yang diilhami oleh imajinasi dan realitas sosial budaya pengarang serta menggunakan media bahasa dalam penyampaiannya. Karya sastra merupakan fenomena sosial budaya yang melibatkan kreativitas manusia. Karya sastra lahir dari pengekspresian endapan pengalaman yang telah ada dalam jiwa pengarang secara mendalam melalui proses imajinasi (Aminuddin, 1990: 57).
Penciptaan karya sastra tidak dapat dipisahkan dari proses imajinasi pengarang dalam melakukan proses kreatifnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Pradopo (2001: 61) yang mengemukakan bahwa karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial yang ada di sekitarnya. Akan tetapi, karya sastra tidak hadir dengan kekosongan budaya.
Damono (2002:1) menyatakan bahwa karya sastra diciptakan sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan masyarakat. Sastrawan itu sendiri adalah masyarakat, ia terikat oleh status sosial tertentu. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium, bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Bagaimanapun juga, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang yang sering menjadi bahan sastra adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau masyarakat.
Sumardjo (1994:17) berpendapat bahwa tidak mengherankan kalau pengarang akan menulis respon sosialnya dalam karya sastra menurut apa yang dilihat dalam lingkungan hidupnya. Namun demikian sastra bukanlah hanya sekedar jiplakan semata, tetapi sastra merupakan hasil kreatifitas pengarang, maka seorang pengarang akan menulis karyanya sesuai dengan apa yang ada dalam alam pikiran pengarang. Lebih lanjut Damono (1984:16) berpendapat bahwa karya sastra merupakan unsur budaya dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh masyarakat, sebab karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati dan dipahami serta dimanfaatkan oleh masyarakat.
Wellek dan Warren (1984:276) mengatakan bahwa karya sastra adalah hasil ciptaan pengarang yang menggambarkan segala perstiwa yang dialami masyarakat di dalam kehidupan sehari-hari. Karya sastra seorang pengarang mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antarmasyarakat berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan. Namun, hal itu dilakukan secara selektif dan dibentuk sesuai dengan tujuannya sekaligus memasukkan unsur hiburan dan penerangan terhadap pengalaman hidup manusia.
Karya sastra bukan hanya untuk dinikmati tetapi juga dimengerti, untuk itulah diperlukan kajian atau penelitian dan analisis mendalam mengenai karya sastra. Chamamah (dalam Jabrohim, 2003: 9) mengemukakan bahwa penelitian karya sastra merupakan kegiatan yang diperlukan untuk menghidupkan, mengembangkan, dan mempertajam suatu ilmu. Kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan ilmu memerlukan metode yang memadai adalah metode ilmiah. Keilmiahan karya sastra ditentukan oleh karakteristik kesasteraannya.
Karena dibutuhkannya pemahaman masyarakat terhadap karya sastra yang dihasilkan pengarang, penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Sosiologi sastra adalah pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya (Ratna, 2003: 3). Sosiologi sastra diterapkan dalam penelitian ini karena tujuan dari sosiologi sastra adalah meningkatkan pemahaman terhadap karya sastra dalam kaitannya dengan masyarakat, menjelaskan bahwa rekaan tidak berlawanan dengan kenyataan. Dalam hal ini, karya sastra dikonstruksikan secara imajinatif, tetapi kerangka imajinatifnya tidak bisa dipahami di luar kerangka empirisnya dan karya sastra bukan semata-mata gejala individual, tetapi gejala sosial (Ratna, 2003: 11).
Novel merupakan salah satu ragam prosa di samping cerpen dan roman selain puisi dan drama, di dalamnya terdapat peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokohnya secara sistematis serta terstuktur. Novel adalah prosa rekaan yang panjang, menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar belakang secara terstruktur (Sudjiman, 1990: 55). Di antara genre utama karya satra, yaitu puisi, prosa, dan drama, genre prosalah, khususnya novel, yang dianggap paling dominan dalam menampilkan unsur-unsur sosial. Alasan yang dapat dikemukakan, di antaranya a) novel menampilkan unsur-unsur cerita yang paling lengkap, memiliki media yang paling luas, menyajikan masalah-masalah kemasyarakatan yang paling luas, b) bahasa novel cenderung merupakan bahasa sehari-hari, bahasa yang paling umum digunakan dalam masyarakat. Oleh karena itulah, dikatakan bahwa novel merupakan genre yang paling sosiologis dan responsif sebab sangat peka terhadap fluktuasi sosiohistoris (Ratna, 2011: 335-336).
Novel dapat dikaji dari beberapa aspek, misalnya penokohan, isi, cerita, setting, alur, dan makna. Semua kajian itu dilakukan hanya untuk mengetahui sejauh mana karya sastra dinikmati oleh pembaca. Tanggapan pembaca terhadap satu novel yang sama tentu akan berbeda-beda sesuai dengan tingkat pemahaman dan daya imajinasi mereka, misalnya pada novel karya Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi. Kelebihan yang dimiliki pengarang (Andrea Hirata) di dalam karya-karyanya yaitu dari segi stilistik yang menarik, mengungkapkan setiap kejadian secara sistematis, terarah dan kronologis, sehingga penulis tertarik untuk mengkaji masalah-masalah yang terdapat di dalam novel tersebut.
Novel ini berkisah tentang sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel jikalau tidak mencapai siswa baru sejumlah sepuluh anak. Ketika itu baru sembilan anak yang menghadiri upacara pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan hendak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di sekolah kecil itu. Adapula Lintang yang mengayuh sepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya hanya untuk pergi ke sekolah untuk menuntut ilmu. Laskar Pelangi merupakan nama yang diberikan Bu Muslimah karena akan kesenangan mereka terhadap pelangi. Mereka pun sempat mengharumkan nama sekolah dengan berbagai cara. Misalnya pembalasan dendam Mahar yang selalu dipojokkan kawan-kawannya karena kesenangannya pada okultisme yang membuahkan kemenangan manis pada karnaval 17 Agustus, dan kejeniusan luar biasa Lintang yang menantang dan mengalahkan sekolah kaya PN Timah dengan memenangkan lomba cerdas cermat. Kisah sepuluh kawanan ini berakhir dengan kematian ayah Lintang yang memaksa Einstein cilik itu putus sekolah dengan sangat mengharukan.
Secara langsung, Andrea Hirata memberikan informasi pada pembaca tentang kehidupan masyarakat asli Belitung yang menderita baik secara ekonomi maupun pendidikan. Novel ini memiliki tema yang menarik tentang bagaimana seorang anak yang dilahirkan dan hidup dalam kemiskinan dan pendidikan yang seadanya, tetapi dengan semangat yang dimiliki akhirnya mencapai status terpandang dengan melanjutkan studinya ke Eropa.
             Berdasarkan uraian di atas, penulis akan mencoba mengkaji novel Laskar Pelangi dengan judul “Nilai-Nilai Edukatif dalam Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata: Tinjauan Sosiologi Sastra”.
B.     Pembatasan Masalah
            Untuk mencegah adanya kekaburan masalah dan untuk mengarahkan penelitian ini agar lebih intensif dan efisien dengan tujuan yang ingin dicapai, diperlukan pembatasan masalah.
            Penelitian ini dibatasi pada masalah Nilai-Nilai Edukatif dalam Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata.

C.    Rumusan Masalah
            Ada dua masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini.
1.      Bagaimanakah unsur-unsur yang membangun dalam novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata?
2.      Bagaimanakah nilai-nilai edukatif dalam novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata dengan tinjauan sosiologi sastra?
D.    Tujuan Penelitian
            Ada dua tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini.
1.      Mendeskripsikan unsur-unsur yang membangun dalam novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata.
2.      Mendeskripsikan nilai-nilai edukatif dalam novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata dengan tinjauan sosiologi sastra.

E.     Manfaat Penelitian
            Penelitian ini diharapkan  berhasil dengan baik dan dapat mencapai tujuan penelitian secara optimal, mampu menghasilkan laporan yang sistematis dan bermanfaat secara  umum.
1.      Manfaat Teoritis
a.       Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai studi analisis terhadap sastra di Indonesia, terutama dalam bidang penelitian novel Indonesia yang memanfatkan teori Sosiologi Sastra.
b.      Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam mengaplikasikan  teori Sosiologi Sastra dalam mengungkapkan novel Laskar Pelangi.
2.      Manfaat Praktis
a.       Melalui pemahaman aspek sosial budaya dalam sebuah karya sastra diharapkan pembaca dapat mengambil hikmah untuk selanjutnya dijadikan sarana untuk memperbaiki diri sehingga dapat menghadapi persoalan hidup dengan bijak.
b.      Penelitian ini diharapkan dapat membantu dan memberi masukan bagi pihak-pihak yang mempunyai kaitan dengan masalah yang sedang dikaji dan menumbuhkan sikap kritis bagi penulis, khususnya dan siapa saja yang tertarik pada kajian serupa pada umumnya.


 

Tugas Akhir Evaluasi


KESESUAIAN SOAL UJIAN AKHIR NASIONAL BAHASA INDONESIA
SEKOLAH MENENGAH ATAS TAHUN PELAJARAN 2007/2008
DENGAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN TAHUN 2007/2008 *
Zenisa Zeinudin Anas**
A 310080 304
Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2012
Jln. A. Yani Tromol Pos 1, Pabelan, Kartasura Telp. (0271) 717417-719483

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan mendeskripsikankesesuaian soal ujian akhir nasional bahasa Indonesia sekolah menengah atas tahun pelajaran 2007/2008 dengan standar kompetensi lulusan tahun 2007/2008. Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan strategi penelitian deskriptif tunggal terpancang. Jadi, penelitian ini sudah terarah pada fokus tertentu yang dijadikan sasaran dalam penelitian, yaitu mengenai soal ujian akhir nasional bahasa Indonesia sekolah menengah atas tahun pelajaran 2007/2008. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui analisis dokumen. Dokumentasi pada penelitian ini berupa soal ujian akhir nasional bahasa Indonesia sekolah menengah atas tahun pelajaran 2007/2008.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwadari 50 soal UN bahasa Indonesia tahun pelajaran 2007/2008, ditemukan ada 2 soal yang tidak sesuai dengan SKLUN tahun 2007/2008. Apabila dikategorikan dalam persentase, kesesuaian soal ujian akhir nasional bahasa Indonesia sekolah menengah atas tahun pelajaran 2007/2008 dengan standar kompetensi lulusan tahun 2007/2008 ini mencapai 96%. Sedangkan soal ujian akhir nasional bahasa Indonesia sekolah menengah atas tahun pelajaran 2007/2008 yang tidak sesuai dengan standar kompetensi lulusan tahun 2007/2008 ini hanya mencapai 4%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa SKLUN tahun 2007/2008 memang bisa dijadikan pedoman bagipara guru dan siswa untuk menghadapi UN pada tahun tersebut.
Kata Kunci: ujian nasional, standar kompetensi lulusan, dan kesesuaian.

ABSTRACT
This research was aimed to find and describe the compatibility of questions on bahasa Indonesia national final examat senior high schoolacademic year 2007/2008 with standard of graduation competence year 2007/2008. This research used descriptive qualitative method. This research used the strategy polar single descriptive. Thus, this research had been directed to certain focus which became the research objective namely regarding questions on bahasa Indonesia national final examat senior high schoolacademic year 2007/2008. Data of this research was collected through document analysis. This research documentation was questions on bahasa Indonesia national final examat senior high schoolacademic year 2007/2008.
The result of this research showed that from 50questions on bahasa Indonesia national final examat senior high schoolacademic year 2007/2008, it was found that there were 2 questions which did not match the national exam standard of graduation competence year 2007/2008. If it was categorized in percentage, this compatibility of question on bahasa Indonesia national final examat senior high schoolacademic year 2007/2008 with standard of graduation competence year 2007/2008was up to 96%.While question on bahasa Indonesia national final examat senior high schoolacademic year 2007/2008which did not match the national exam standard of graduation competence year 2007/2008 were up to 4%. It could be concluded that national exam standard of graduation competenceyear 2007/2008 could be able to be the guide for teachers and students to face the national exam on the regarding year.
Keywords: national exam, standard of graduation competence, andcompatibility.

A.      PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu usaha untuk membentuk manusia-manusia yang cerdas dan berkualitas dalam berbagai aspek, baik intelektual, sosial, emosional, maupun spiritual. Hal ini sejalan dengan UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003 yang menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.Tujuan pendidikan adalah menciptakan seseorang yang berkualitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita-cita yang diharapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa meningkatnya kualitas manusia searah dengan perkembangan pendidikan.
Khairuddin dkk, (2007: 79) menyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan.Sebagai suatu rancangan, kurikulum sangat menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan.Sejak tahun 2006, kurikulum 2004 (KBK) disempurnakan menjadi KTSP.Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan/sekolah (Muslich, 2008: 17).Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai pada tahun ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah.
Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP) dipandang lebih baik penerapannya daripada KBK. Sistem dan proses yang digunakan oleh KTSP adalah sistem desentralisasi atau otonomi pendidikan dimana setiap sekolah-sekolah di Indonesia diberi kebebasan untuk mengembangkan dan menyusun sendiri muatan-muatan mata pelajaran dan pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing setiap sekolah. Sedangkan sistem yang diterapkan oleh KBK adalah sistem sentralisasi yang semua perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran disusun dan dilaksanakan semuanya berdasarkan ketentuan dari pusat, tanpa mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan sekolah serta siswa di lapangan.
SK dan KD dalam dokumen standar isi keberadaannya sangat penting, selain standar kompetensi lulusan (SKL) yang menjadi rujukan pelaksanaan ujian nasional.Pencapaian sejumlah KD akan menentukankeberhasilan pencapaian SK. Pencapaian SK akan menentukan keberhasilan pencapaian SKLmata pelajaran.Khairuddin dkk, (2007: 57) mengemukakan bahwa standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagaimana yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006.SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dalam satuan pendidikan.
UAN merupakankegiatan penilaian hasil belajar peserta didikyang telah menyelesaikan jenjang pendidikan pada jalur sekolah atau madrasahyang diselenggarakan secara nasional pada waktu tertentu. Hampir dua dasawarsa kementerian pendidikan nasional melalui BSNP telah menyelenggarakan ujian nasional (UN).Namun, saat ini perkembangan pendidikan di Indonesia diramaikan dengan banyaknya kontroversi mengenai diadakannya Ujian Akhir Nasional (UAN) mengingat banyak siswa SMPdan SMA yang harus mengulang setahun lagi karena gagal dalam menghadapinya. Sampai saat ini, UAN masih menjadi penentu kelulusan siswa, sehinggahal itu masih menjadi momok yang menakutkan tidak hanya bagi siswa itu sendiri, tetapi juga pihak sekolah karena menyangkut nama baik sekolah tersebut di mata masyarakat. Sebenarnya hasil pendidikan selama tiga tahun itu tidak bisa disederhanakan hanya dengan ujian selama tiga hari saja untuk menyatakan bahwa seorang siswa tersebutlulus atau tidak dalam suatu jenjang pendidikan.
Mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang diujiankan secara nasional pada setiap jenjang pendidikan dari SD hingga SMA.Hal ini dapat disimpulkan bahwa mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang sangat penting dan harus dikuasai oleh peserta didik. Mata pelajaran bahasa Indonesia memiliki dua komponen yang harus dikuasai oleh peserta didik, yaitu sastra Indonesia dan bahasa Indonesia itu sendiri. Namun, pada implementasinya di soal-soal UAN kedua komponen ini tidak seimbang karena lebih banyak ke komponen bahasa Indonesia dibandingkan dengan sastra.
Berdasarkan uraian di atas, apakah benar soal-soal pada UAN SMA tahun 2007/2008 sudah sesuai dengan SKL tahun 2007/2008. Oleh karena itu, peneliti mengambil judul penelitian “Kesesuaian Soal Ujian Akhir Nasional Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Atas Tahun Pelajaran 2007/2008 dengan Standar Kompetensi Lulusan tahun 2007/2008.”
       Berdasarkan latar belakang tersebut, ada satu masalah yang akan dikajidalam penelitian ini.
Bagaimanakah kesesuaian soal ujian akhir nasional bahasa Indonesia sekolah menengah atas tahun pelajaran 2007/2008 dengan standar kompetensi lulusan tahun 2007/2008?
Berdasarkan masalah tersebut, ada satu tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini.
Menemukan dan mendeskripsikan kesesuaian soal ujian akhir nasional bahasa Indonesia sekolah menengah atas tahun pelajaran 2007/2008 dengan standar kompetensi lulusan tahun 2007/2008.
Ada beberapa manfaat dalam penelitian ini, yaitu: bagi penulis, memberi sumbangan informasi dan pengalaman bagi penulis dalam membuat sebuah tulisan khususnya pada kesesuaian soal ujian akhir nasional bahasa Indonesia sekolah menengah atas tahun pelajaran 2007/2008 dengan standar kompetensi lulusan tahun 2007/2008; bagi pendidik, penelitian ini dapat digunakan sebagai koreksi guru dalam meningkatkan pembuatan soal ujian nasional bahasa Indonesia; dan bagi siswa, penelitian ini dapat memberi informasi kepada siswa mengenai materi apa saja yang perlu dipelajari dan dipersiapkan oleh siswa untuk menghadapi UAN bahasa Indonesia.


Senin, 11 Juni 2012

Bayi Gemuk


Persalinan Caesar Naikkan Peluang Obesitas Anak

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa persalinan caesar memicu naiknya risiko asma dan alergi pada anak. Kini, persalinan caesar dikaitkan dengan masalah berat badan anak.Sebuah penelitian terbaru oleh tim dari Boston Children's Hospital menunjukkan bayi yang lahir melalui operasi caesar memiliki risiko dua kali lebih mungkin mengalami obesitas pada usia 3 tahun dibandingkan bayi dengan persalinan normal.
Penelitian ini telah dilakukan dengan mengamati 1.255 pasang ibu dan anak dari tahun 1999 hingga 2002. Seperempat bayi di penelitian dilahirkan melalui operasi caesar, sisanya melalui persalinan normal.Setelah melakukan penimbangan dan pengukuran bayi saat bayi lahir, di usia 6 bulan dan di usia 3 tahun, peneliti menemukan 16 persen anak-anak yang dilahirkan melalui caesar mengalami obesitas di usia 3 tahun dibandingkan dengan 7,5 persen anak yang dilahirkan melalui persalinan normal.
Menurut peneliti, kelahiran melalui operasi caesar memengaruhi bakteri dalam usus yang pada akhirnya memengaruhi cara makanan di cerna. "Kami berspekulasi bahwa berbagai jenis persalinan dapat memengaruhi bakteri dalam usus saat lahir dan ada kemungkinan bahwa bakteri usus dapat memengaruhi obesitas dengan memengaruhi kalori dan nutrisi yang diserap dari makanan," papar Dr Susanna Huh, direktur pertumbuhan dan program gizi di Rumah Sakit Anak di Boston, dilansir melalui Imperfectparent (24/5).
Oleh: Innes


Minggu, 10 Juni 2012

Tugas Membaca Komprehensif



Nama                          : Zenisa Zeinudin Anas
NIM                            : A 310 080 304
Mata Kuliah              : Membaca Komprehensif
Dosen Pengampu      : M. Fakhrur Saifudin, M.Pd
ABSTRAK
Dwi Prasetyo. C0204019. 2009. Tindak Tutur Ilokusi dalam Sinetron Komedi ”Cagur Naik Bajaj” di Stasiun Televisi ANTV. Skripsi Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yakni 1) bagaimanakah tindak tutur ilokusi yang terdapat pada percakapan seluruh pemain sinetron komedi “Cagur Naik Bajaj”?, 2) bagaimanakah implikatur percakapan yang terdapat pada percakapan seluruh pemain sinetron komedi “Cagur Naik Bajaj”?
Tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan tindak tutur ilokusi yang terdapat pada percakapan seluruh pemain sinetron komedi “Cagur Naik Bajaj”, 2) mendeskripsikan implikatur percakapan yang terdapat pada percakapan seluruh pemain sinetron komedi “Cagur Naik Bajaj”.
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa teknik rekam, teknik simak bebas libat cakap, dan teknik catat. Data dalam penelitian ini berupa semua tuturan para tokoh yang mengandung tidak tutur ilokusi dan implikatur percakapan dalam sinetron komedi “Cagur Naik Bajaj”. Teknik penyajian analisis menggunakan metode padan pragmatik dan berdasarkan pendekatan pragmatik.
Berdasarkan analisis dapat disimpulkan beberapa hal (1) ditemukan adanya tindak tutur ilokusi yang terdiri dari empat jenis tindak tutur yaitu tindak tutur representatif meliputi subtindak tutur menyatakan dan melaporkan. Tindak tutur direktif meliputi subtindak tutur mengajak, memohon, mengusulkan, menyuruh, dan menasehati. Tindak tutur komisif meliputi subtindak tutur menawarkan, menolak, mengancam, bersumpah, dan berjanji. Tindak tutur ekspresif meliputi subtindak tutur mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, mengkritik, menyalahkan, mengeluh, dan memuji. (2) Selain tindak tutur ilokusi juga terdapat beberapa macam implikatur percakapan. Implikatur-implikatur tersebut digunakan antara lain untuk menegaskan, menawarkan, memperingatkan, menyuruh, melarang.


Hasil Reproduksi

ABSTRAK
TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM SINETRON KOMEDI “CAGUR NAIK BAJAJ” DI STASIUN TELEVISI ANTV

Dwi Prasetyo, C0204019, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2009, 69 Halaman.


Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan dan mendeskripsikan: (1) tindak tutur ilokusi yang terdapat pada percakapan seluruh pemain sinetron komedi “Cagur Naik Bajaj”, 2) implikatur percakapan yang terdapat pada percakapan seluruh pemain sinetron komedi “Cagur Naik Bajaj”.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Objek yang diteliti dalam penelitian ini adalah Tindak Tutur Ilokusi dalam Sinetron Komedi ”Cagur Naik Bajaj” di Stasiun Televisi ANTV. Data penelitian ini berupa tuturan seluruh pemain yang mengandung tidak tutur ilokusi dan implikatur percakapan dalam sinetron komedi “Cagur Naik Bajaj”. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik rekam, teknik simak bebas libat cakap, dan teknik catat. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan pragmatis.
Hasil penelitian ini adalah: (1) tindak tutur ilokusi yang terdapat pada percakapan seluruh pemain sinetron komedi “Cagur Naik Bajaj” terdiri dari empat jenis tindak tutur, yaitu tindak tutur representatif, meliputi subtindak tutur menyatakan dan melaporkan; tindak tutur direktif, meliputi subtindak tutur mengajak, memohon, mengusulkan, menyuruh, dan menasehati; tindak tutur komisif, meliputi subtindak tutur menawarkan, menolak, mengancam, bersumpah, dan berjanji; dan tindak tutur ekspresif, meliputi subtindak tutur mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, mengritik, menyalahkan, mengeluh, dan memuji, (2) implikatur percakapan yang terdapat pada percakapan seluruh pemain sinetron komedi “Cagur Naik Bajaj” digunakan untuk menegaskan, menawarkan, memperingatkan, menyuruh, dan melarang.

Kata Kunci : tindak tutur ilokusi, implikatur, sinetron komedi

Kamis, 10 Mei 2012

Wawancara dalam Melamar Pekerjaan.


Tips Wawancara untuk Lolos Melamar Pekerjaan
Dalam proses seleksi melamar pekerjaan, wawancara sering kali dianggap mudah. Namun dalam sesi wawancara beberapa orang gagal mendapatkan pekerjaan yang didambakannya. Untuk itu sesi wawancara harus dipersiapkan dengan sunguh-sungguh. Berikut tips rahasia sukses wawancara saat melamar pekerjaan.
1.      Berapa gaji yang Anda minta?
Jawab: Sebutkan gaji yang besarnya realistis. Lihat mata pewawancara, sebutkan jumlah, dan berhentilah bicara. Jangan bohong tentang gaji yang Anda terima di kantor sebelumnya, bila Anda sudah bekerja. Bila Anda merasa bahwa gaji Anda di kantor yang sekarang terlalu kecil, berikan penjelasan.
2.      Apa kelebihan utama Anda?
Jawab: Pilih potensi Anda yang relevan dengan bidang pekerjaan yang Anda lamar. Hindari respons yang generik seperti pengakuan bahwa Anda pekerja keras. Lebih baik, berikan respons berupa, “Saya selalu diperbudak daftar pekerjaan yang saya buat sendiri. Sebab, saya tidak mau pulang sebelum pekerjaan di kantor beres semua.”
3.      Apa kekurangan Anda yang paling jelas?
Jawab: Jangan bilang Anda seorang perfeksionis (menunjukkan bahwa Anda sombong). Lebih baik, jujur saja dan sebutkan kelemahan yang kongkret. Misalnya, Anda lemah menghitung di luar kepala, dan karenanya Anda mengatasinya dengan membawa kalkulator. Tapi, kemudian, susul dengan kelebihan Anda.
4.      Di mana Anda melihat diri Anda lima tahun lagi.
Jawab: Gambarkan posisi yang realistis. Kira-kira dua-tiga posisi di atas posisi yang Anda lamar sekarang. Jangan sertakan cita-cita yang tak ada hubungannya dengan lamaran pekerjaan Anda, misalnya, ingin jadi bintang sinetron atau jadi novelis. Sebab, Anda akan tampak tidak fokus.
5.      Mengapa Anda ingin meninggalkan kantor yang lama?
Jawab: Jangan sampai mengemukakan hal yang negatif. Kalau kenyataannya begitu, ucapkan dalam kalimat ‘positif’, misalnya bahwa Anda tidak melihat ada ‘ruang’ di mana Anda bisa berkembang. Lalu, jelaskan mengapa Anda menganggap bahwa pekerjaan di kantor baru ini memberi kesempatan yang lebih baik.
6.      Adakah contoh kegagalan Anda?
Jawab: Ungkapkan kegagalan yang pernah Anda alami, tapi yang sudah terpenuhi solusinya. Supaya, pewawancara tahu bahwa Anda punya usaha untuk mengatasi masalah.
7.      Apakah Anda punya pertanyaan?
Jawab: Berikan paling sedikit dua pertanyaan yang terfokus pada kantor baru ini. Misalnya, Anda bertanya apakah kantor ini sudah punya website. Atau, bisa juga Anda mempertanyakan kehadiran CEO yang Anda tahu baru saja diangkat – apakah membuat kinerja perusahaan semakin baik, dan semacamnya. Jangan bertanya tentang kepentingan Anda sendiri, misalnya, apakah karir Anda akan berkembang di sana.
Apa yang menjadikan seseorang selalu sukses untuk menggapai impiannya? Tampil beda dan memiliki keunggulan komperatif mungkin salah satu yang menjadikan Anda selalu berada di dalam posisi terdepan! Termasuk dalam meraih karier dan mengungguli orang lain dalam mencari pekerjaan yang sesuai. Ada beberapa trik atau strategi yang perlu disiapkan agar Anda sukses dalam melewati tahapan untuk mengejar karier yang diidam-idamkan. Modal nekat saja, pasti tak cukup. Di sini juga anda bisa menemukan beberapa lowongan kerja yang mungkin tak ada salahnya jika anda mencobanya. (tslb)
Sumber: Yahoo.


Ibu Hamil bayi laki-laki


Tanda Istri Hamil Janin Laki-laki
Menebak jenis kelamin jabang bayi dalam kandungan merupakan hal yang mendebarkan bagi calon ibu. Dilansir melalui Boldsky, Kamis (5/4), berikut ini beberapa kondisi tubuh ibu yang bisa menjadi penunjuk jenis kelamin bayi tanpa harus repot-repot melakukan pemeriksaan USG. Anda boleh percaya, boleh tidak.
1.      Mual dan morning sickness
Banyak orang bilang jika Anda sedang mengandung bayi perempuan, maka rasa mual jarang dirasakan. Namun, jika Anda sedang mengandung bayi laki-laki, maka Anda bisa muntah hingga berember-ember. Morning sickness lebih sering dirasakan pada trimester pertama dan kebanyakan bumil lebih cuek pada penampilan mereka.
2.      Bentuk perut condong ke arah bawah
Tonjolan bayi Anda sudah mulai terlihat saat Anda hamil bayi laki-laki. Bentuk perut ini terlihat berbeda pada wanita yang mengandung bayi perempuan, yaitu perut membulat. Beberapa orang juga mengatakan bahwa wanita yang hamil bayi laki-laki, jika dilihat dari belakang malah terlihat seperti tidak sedang hamil.
3.      Berat badan tidak naik
Kenaikan berat badan merupakan hal biasa saat hamil. Saat Anda mengandung janin bayi laki-laki, maka berat badan Anda tidak akan mengalami kenaikan terlalu banyak. Proporsi kenaikan ini berasal dari janin.
4.      Muka sayu
Meskipun Anda merasa dengan mudah dapat membentuk kembali bentuk tubuh setelah persalinan, namun selama masa kehamilan Anda tidak akan berpenampilan 'wah'. Hal itu berbeda dengan penampilan bumil bayi perempuan yang selalu terlihat tampil cantik dan cerah, bumil bayi laki-laki lebih cenderung tampil pucat dan selalu berpenampilan serba cuek serta malas dandan.
5.      Ngidam yang asam-asam
Menginginkan makanan sesuatu merupakan hal normal selama masa kehamilan. Hal ini menjadi cara alami bagi tubuh untuk 'menagih' asupan nutrisi tertentu yang dirasa tubuh membutuhkan asupan tersebut. Janin bayi laki-laki lebih membutuhkan nutrisi dari makanan yang asam-asam.
Oleh Innes