Minggu, 11 Maret 2012

PRAGMATIK


DASAR-DASAR PRAGMATIK


Pragmatik pada tahun 1938 terus berkembang, yakni ditandai dengan semakin banyaknya teori-teori yang dikeluarkan oleh para ahli. Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini, walaupun pada kira-kira dua dasawarsa yang silam ilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis bahwa upaya menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi.
Pragmatik merupakan cabang linguistik yang mengkaji makna tuturan dengan cara menghubungkan faktor lingual dengan faktor nonlingual. Pragmatik menelaah makna-makna satuan lingual yang terikat dengan konteks.
Contoh:
Ibu       : Kenapa tanganmu, Nak?
Rudi    : Wah, tadi aku habis menabrak tukang sate, Bu.
Ibu       : Bagus, besok kebut-kebutan lagi ya?
Kata “Bagus, besok kebut-kebutan lagi ya?” dalam tuturan Ibu di atas digunakan untuk menyindir Rudi yang sebenarnya bermakna “jangan kebut-kebutan di jalanan lagi”.
Situasi tutur merupakan situasi yang melahirkan tuturan. Situasi tutur merupakan sebab, sedangkan tuturan merupakan akibatnya. Ada sejumlah aspek yang senantiasa harus dipertimbangkan dalam rangka studi pragmatik.
a.       Penutur dan lawan tutur
b.      Konteks tuturan
c.       Tujuan tuturan
d.      Tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas
e.       Tuturan sebagai produk tindak verbal
Ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yakni tindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (ilocutionary act), dan tindak perlokusi (perlocutionary act). Tindak lokusi merupakan tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tindak ilokusi merupakan tindak tutur yang berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu, dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Tindak perlokusi merupakan tindak tutur yang mempunyai daya pengaruh atau efek bagi yang mendengarkannya.
Contoh Tindak Lokusi:
(1)   Pak Joko memiliki dua ekor sapi.
           (Makna tetap)
(2)   Zen adalah seorang mahasiswa UMS PBSID.
          (Makna tetap)
(3)   Mawar itu berwarna merah.
         (Makna tetap)
Contoh Tindak Ilokusi:
(1)   Bajunya Ibu di mana ya, Nak?
            Tuturan ini sebenarnya digunakan Ibu untuk menyuruh anaknya mengambilkan baju.
(2)   Aku tidak mempunyai uang, Jon.
        Tuturan ini sebenarnya digunakan untuk meminta maaf karena ia tidak bisa meminjami uang pada temannya.
(3)   Kamu belum mandi ya, Bud?
            Tuturan ini sebenarnya digunakan untuk menyindir karena bau badan Budi sangat tidak enak.

Contoh Tindak Perlokusi:
(1)   Tadi ban motor saya bocor, Pak.
         Tindak ilokusinya meminta maaf. Efek perlokusi yang mungkin diharapkan adalah agar dosennya itu mau memaklumi keterlambatannya.
(2)   Besok siang di SGM ada konsernya Bondan Prakoso.
         Tindak ilokusinya mengajak untuk menonton konser. Efek perlokusi yang mungkin diharapkan adalah agar temannya itu menyetujui ajakannya.
Tindak tutur merupakan suatu tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan. Berkaitan dengan teori tindak tutur, Austin mengemukakan dua terminologi, yaitu tuturan konstatif (constative) dan tuturan performatif (performative). Tuturan konstatif merupakan tuturan yang dipergunakan untuk mengatakan sesuatu. Sedangkan tuturan performatif merupakan tuturan yang pengutaraannya digunakan untuk melakukan sesuatu.



Nama  : Zenisa Zeinudin Anas
NIM    : A 310 080 304
(http://zenanasrooney.blogspot.com.)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar